Langsung ke konten utama

Postingan

The Year Turns Again, Nastenka

( Going Home by Tom Roberts, 1889) Forgive me for using your name again, Nastenka. In understanding you, it requires time and full of effort. I’ve read and reread your story countless times, repeating every word. Damn it, that man described you with such depth. Maybe that’s why I feel proud when I can finally understand you, maybe. After all, Nastenka, it’s been more than a hundred years since that man immortalized your story, and more than a hundred years since he left you, truly left you, forever. So, I hope you won’t mind if I call upon your name again. Nastenka, the year has turned again. I once read on social media, though I can’t remember who wrote it, that stepping into this new year, when people start cheering, blowing trumpets, and lighting fireworks, is the moment when the distance to the year 2050 is now the same as the distance back to the year 2000. The words seem ordinary enough, but I read it with a strange feeling, Nastenka. It turns out we’ve come this far. I’m not sa...
Postingan terbaru

Cerpen Sesat (?)

  “Keprak!” Cangkir dari tanah liat yang baru saja jadi itu dilemparkan begitu saja oleh si pengrajin, pecah tiada rupa. Di atas meja, terjajar banyak sekali cangkir yang baru saja jadi. “Keprak!” Menyusul cangkir lainnya dilempar lagi. Lagi-lagi oleh si pengrajin itu sendiri, cangkir yang dibuatnya sendiri, dari bahan dan alat yang ia kuasai sendiri. Namun sebagian cangkir lain dibahagiakan, diberi manfaat untuk meminum teh, kopi, atau sekadar pajangan di ruang tamu. Apa yang pengrajin pikirkan tak ada yang benar-benar tahu. Beberapa orang malas untuk mencari tahu, dan beberapa lagi dibungkam, dicecar habis-habisan ketika ingin mempertanyakan semua. Aneh, padahal si pengrajin tidak pernah melarang, selantang apapun pertanyaan diajukan padanya, jawaban tak ada yang datang langsung darinya. “Benar, kan, Dar?” ucap Nero meyakinkan Dara. “Gak gitu, semua sebenarnya udah ada penjelasannya, kamu aja yang kurang yakin,” jawab Dara sembari membereskan buku-buku di meja. “Coba renungkan Da...

Seberapa Lama Selamanya?

( " San Giorgio Maggiore at Dusk" , 1908 dilukis oleh Claude Monet)             Ide-ide unik sekaligus aneh seringkali muncul ketika kita bengong.  Dalam malam-malam insomnia yang penuh kegabutan, atau saat dalam transportasi umum dengan pandangan kosong ke arah gedung perkotaan dan pepohonan pinggir jalan, atau bahkan suasana hening saat buang air besar.       Kondisi-kondisi tersebut tak jarang melahirkan motivasi mendadak bahwa kita mampu mengubah dunia, paling tidak mengubah diri sendiri. Dibandingkan sebutan ‘bengong’ saya lebih memilih meromantisasinya dengan istilah kontemplasi.      Memang, salah seorang sahabat saya berkata bahwa otak kita justru menghasilkan pikiran kreatifnya saat ia tidak dipaksa untuk berpikir. Dalam ilmiahnya, kondisi tersebut adalah kondisi dimana otak mencapai gelombang Alpha (google saja untuk info lebih dalam).      Kembali lagi, seberapa lama selamanya?  ...

Menuju Sarjana, Sebuah Kegugupan yang Nyata

  Salam semua, sejak awal bergelut dengan skripsi, pikiran saya akhir-akhir ini selalu dihantui dengan pertanyaan “setelah ini apa?” dan saya rasa banyak juga dari kawan sekalian yang seperti itu. Mungkin ini bersebab karena apa yang saya sebut dengan “The Philosophy’s Trap” ya, jebakan filsafat. Semasa berkuliah saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang hebat, dari yang paling Islami hingga yang sekuler, dari yang paling kanan hingga yang meng-kiri-kan diri, dari yang telah haqqul yakin dengan keyakinannya hingga yang masih proses mencari, dan semua obrolan bersama mereka  tak terlepas dari filsafat. Filsafat, Sejak SMP saya telah jatuh hati dengan kata itu walau tidak mengetahui apapun tentangnya, dan ketika awal menjadi mahasiswa barulah PDKT yang mungkin lebih serius dimulai. The Philosophy’s Trap , memasuki masa-masa akhir berkuliah, sepertinya saya mulai menyadari bahwa inilah permulaan dunia pemikiran, seperti sebuah jebakan, filsaf...

Uwo dan Pelajarannya Tentang Cita-Cita

  “orang dewasa perlu belajar dengan anak kecil tentang bercita-cita dan anak kecil haruslah menjadi dewasa agar mengerti tentang orientasi” Kita semua adalah pemimpi yang hebat, dimasa kecil kita semua adalah orang yang sama, jika anda lelaki maka kita adalah tantara, polisi, pemadam kebakaran, astronot yang dahulu kita cita-citakan. Jika anda adalah wanita maka kalian adalah dokter, polwan, chef atau pramugari yang dahulu kalian cita-citakan. Perlahan kita semua mulai beranjak dewasa dan bercita-cita mulai tidak seindah dahulu. Di bangku SMA mungkin kita bercita-cita hanya sebatas diterima di perguruan tinggi favorit, saat memasuki kehidupan kampus mungkin kita bercita-cita hanya sebatas lulus nanti mendapat pekerjaan yang bagus atau mungkin semoga lulus tepat waktu dan paling tidak cita-cita terendah saat itu adalah tidak mengulang mata kuliah. Bagi anda yang telah melalui semuanya, mungkin saat membaca ini tengah senyum-senyum sendiri, dan bagi kalian yang belum melaluinya, i...

Ledakan di Beirut, Ladang Baru Bagi Para Pecandu Konspirasi.

  Tak ada senja di Lebanon…           Selasa (4/8/2020), ledakan yang diiringi shockwave terjadi sekitar pukul 18.00 waktu setempat (22.00 WIB) mengubah situasi senja saat itu menjadi sebuah tragedi mengerikan, ledakan yang diiringi teriakan serta tangisan warga Lebanon itu sontak menarik mata dunia tertuju pada Beirut, Lebanon.           Dilansir dari laman CNBC Indonesia, ledakan yang menewaskan sedikitnya 135 orang dan melukai lebih dari 5000 orang tersebut disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan pada salah satu gudang di Pelabuhan Beirut. Salah satu pernyataan dari pejabat keamanan Lebanon mengatakan bahwa amonium nitrat telah tiba di Lebanon pada 2013 di atas kapal berbendera Moldova dari Georgia dan menuju Mozambik. Atas kekhilafan tersebut, Presiden Lebanon Michel Aoun pada salah satu cuitannya di twitter berkata “penyimpanan bahan kimia amonium nitr...

Mahasiswa Ekonomi : masuk manusia, keluar jadi robot ?

  sumber : Google Mahasiswa Ekonomi : masuk manusia, keluar jadi robot ? Oleh : Cenruang Alung Jika mendengar kata “EKONOMI” apa yang terlintas dalam benak anda ? 1…..2..…3….. Silahkan tersenyum jika yang terlintas dalam pikiran anda adalah uang, bank, dan jualan. Jika bukan,   maklumi saja saya bukan Roy Ki*oshi yang dapat membaca pikiran anda. Oke. Apa yang disampaikan Paul Omerod dalam buku kontroversialnya yang   berjudul “ The Death of Economics” (1994), nampaknya semakin terlihat jelas seiring memutarnya waktu. Omerod meresahkan bahwa dewasa ini terjadi fenomena yang disebutnya the death of economics (yang kemudian menjadi judul bukunya), dimana ilmu ekonomi mulai mengalami penyempitan, ketika ilmu ekonomi hanya dipandang dari segi perbankan, dan manajemen bisnis saja. Demikian didalam universitas seringkali tujuan pembelajaran ilmu ekonomi hanya untuk menguasai hal hal seperti yang disampaikan oleh paman Omerod tadi. kerap kali ter...