Langsung ke konten utama

Cerpen Sesat (?)



 “Keprak!”

Cangkir dari tanah liat yang baru saja jadi itu dilemparkan begitu saja oleh si pengrajin, pecah tiada rupa. Di atas meja, terjajar banyak sekali cangkir yang baru saja jadi.

“Keprak!”

Menyusul cangkir lainnya dilempar lagi. Lagi-lagi oleh si pengrajin itu sendiri, cangkir yang dibuatnya sendiri, dari bahan dan alat yang ia kuasai sendiri. Namun sebagian cangkir lain dibahagiakan, diberi manfaat untuk meminum teh, kopi, atau sekadar pajangan di ruang tamu.

Apa yang pengrajin pikirkan tak ada yang benar-benar tahu. Beberapa orang malas untuk mencari tahu, dan beberapa lagi dibungkam, dicecar habis-habisan ketika ingin mempertanyakan semua. Aneh, padahal si pengrajin tidak pernah melarang, selantang apapun pertanyaan diajukan padanya, jawaban tak ada yang datang langsung darinya.

“Benar, kan, Dar?” ucap Nero meyakinkan Dara.

“Gak gitu, semua sebenarnya udah ada penjelasannya, kamu aja yang kurang yakin,” jawab Dara sembari membereskan buku-buku di meja.

“Coba renungkan Dar, di mana letak keadilan entitas yang kita sebut tuhan itu? Jika ia menciptakan sebagian manusia yang nantinya diimingi bahagia abadi, dan sebagian manusia lain kamu tahu, Dar? Diciptakan hanya untuk disiksa, tenggelam dalam kesengsaraan abadi. Ia sama saja seperti si pengrajin itu. Dan kamu tahu juga kan Dar, kalau itu semua dari awal dia sudah tahu akhirnya kayak gimana,” jelas Nero sambil menyondongkan wajahnya ke arah Dara.

“Hadeh…,” hanya itu respon Dara sambil menghela napas.

“Oke, jadi gini Dar…,” sambut Nero dengan antusias.

Tak jelas bagaimana percakapan itu bermula, namun obrolan itu adalah keresahan Nero. Hasil permenungannya yang ia coba ceritakan pada siapa saja yang mau mendengarkan, termasuk Dara. Pun demikian, tidak pasti bagaimana pikiran tersebut muncul dan terus berisik di batin Nero, semacam terdapat krisis transendental dalam dirinya.

“Oke, jadi gini Dar, kalau dengan pemahaman kita selama ini berakhir menanyakan tuhan itu gak adil, gimana kalau kita coba lihat dari perspektif lain, kali aja keadilan itu jelas terlihat dari perspektif liar ini. Aku mau cerita beberapa perspekti sesat sama kamu, yang mungkin gak menyesatkan” ujar Nero sambil tertawa.

“Ntar dulu, gak adil yang gimana menurutmu Ro” balas Dara diiringi dahi yang mengernyit.

“Ya yang tadi aku ngelantur di awal.”


Tuhan yang gabut

Sebelumnya, Nero bercerita bahwa pikiran tidak jelas dan tidak bermanfaatnya ini muncul atas dasar bahwa semua kita (manusia) merasa menjadi yang paling benar, masing-masing kita memiliki kebenarannya sendiri. 

Sedari kecil kita telah diajarkan dan dicekoki keyakinan bahwa apa yang telah kita yakini itulah yang benar, nantinya kita akan berbahagia dan yang lain akan tersiksa, selamanya. Padahal, keyakinan lain juga seperti itu, merasa memiliki kebenaran masing-masing. Bayangkan, tak jarang  atas nama kebenaran kita saling ribut. 

Tentu tidak semua, kita juga sering damai dan justru merasakan kehangatan dan berbagi kebahagiaan dengan orang-orang beda keyakinan. Tapi tetap saja, ada sedikit sedih di sana, ketika mengingat bahwa sehangat apapun kedamaian itu, mereka-mereka yang kita sayangi itu, karena keyakinan berbeda akhirnya akan dilempar dan pecah oleh si pengrajin.

“Kamu mau menegasikan tuhan Ro?” tanya Dara dengan penasaran.

“Gak Dar, gak sama sekali. Justru karena aku percaya tuhan itu maha adil. Hanya saja batinku sedang bertengkar,” ujar Nero.

“Ya makanya gausah berpikir terlalu jauh” sambut Dara dengan sedikit mendorong lengan Nero. 

“Aku punya teori sendiri Dar” tegas Nero dengan antusias.

“Haha ada-ada saja kamu.” Dara sambil menggelengkan kepala.

“Jadi, dengan teori ini manusia bisa melihat keadilan tuhan.”

“Yaudah gimana?” Dara mulai serius pada obrolan Nero.

“Dar, gimana kalau ternyata…”


Ujian lisan

Tidakkah kebenaran selalu bertengkar? Manusia selalu saja menganggap bahwa mereka memiliki kebenaran tuggal, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Nero. 

Setiap kita hidup dalam kebenaran masing-masing, ada yang mempercayai bahwa ia akan bahagia selamanya di kehidupan setelah mati, karena begitulah ia diajarkan, begitulah ia meyakini sesuatu. Ada pula yang menganggap bahwa setelah kita mati, maka matilah, tiada lagi apapun. 

Tapi dapatkah kita berpikir bahwa keadilan dan kebenaran itu telah diporsikan masing-masing?

Mari bayangkan proses ujian, dimana seluruh peserta duduk dalam satu ruangan, dengan soal yang sama dan waktu yang sama, maka akan ada yang memiliki nilai sempurna, atau sekadar lulus ujian, atau bahkan gagal, akan ada yang bahagia, juga sengsara. Bukankah demikian gambaran kita hidup di dunia yang selama ini kita pikirkan?

Tapi cobalah berpikir bahwa dunia ini adalah ujian individu, seperti ujian lisan perorangan. Bahwa setiap kita adalah pemeran inti dari hidup ini, kita tidak membandingkan kebenaran dengan dengan kebenaran orang lain. Bahwa yang diuji dalam hidup ini adalah kita sendiri, dengan bekal kebenaran yang telah kita yakini. 

“Lantas, gimana dengan manusia lain?” tanya Dara dengan nada penasaran. 

“Dimensi itu tidak terbatas, jadi begini…”


Dimensi tak hingga

“Kamu itu gak ada Dar, yang ada cuma aku” ujar Nero dengan yakin.

“Apasih” jawab Dara dengan pandangan sinisnya.

“Begitu juga aku dan semua ini, gak ada, hanya soal-soal ujian dalam hidupmu, Dar.”

Nero bercerita secara lepas kepada Dara bahwa dalam kehidupan masing-masing, hanya kitalah yang sebenarnya ada. Tidak ada orang tua, saudara, suami, istri, anak atau siapapun. Hal tersebut adalah gambaran tiap-tiap soal dalam hidup. 

Dalam hidup, tiap individu telah diberikan nilai kebenaran, mereka diuji tentang hal tersebut, mereka diuji dengan adanya soal-soal, tentang bagaimana mereka menjalani hidupnya dengan nilai kebenaran yang telah dimiliki.

Bagaimana kalau tiap kita hidup di dimensi yang masing-masing berbeda. Kita bisa saja hidup dalam garis ruang dan waktu yang sangat berbeda dan jauh, namun dihubungkan dengan suatu kekuatan yang entitasnya kita sebut sebagai tuhan.

“Coba bayangkang lato-lato itu Dar” ujar Nero sambil menunjuk lato-lato yang ada di bawah meja.

“Kenapa?” ungkap Dara.

“Tiap bola lato-lato itu bisa saja berjauhan, namun akan berdekatan ketika kita menarik talinya, dan bayangkan ketika lato-lato itu memiliki bola yang tak terhingga, kemudian tarik talinya” terang Nero dengan mempraktekkan apa yang ia katakan.

Dengan nada bicara yang sangat tenang, sambil menatap ke arah jendela, Nero menjelaskan maksud dari pemikirannya itu ke Dara.

“Jadi hanya dengan seperti itu Dar, kita akan tenang, dan paling tidak, kita bisa memproposisikan keadilan tuhan, aku bukan seperti filsuf Jerman yang berkumis tebal itu. Aku masih memilih untuk tidak membunuh tuhan. Dengan menganggap bahwa kita adalah sendiri di dunia ini, maka kita akan sadar, kelak ketika orang-orang yang kita sayangi itu tiada lagi menemani kita di dunia ini, sadarlah bahwa sejak awal mereka itu tiada. Mungkin, mungkin ketika sebagian mereka telah pergi, itu bukan hidup mereka yang telah selesai di dunia ini, tapi kita telah menjawab salah satu soal-soal dalam hidup ini.” tutup Nero.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Year Turns Again, Nastenka

( Going Home by Tom Roberts, 1889) Forgive me for using your name again, Nastenka. In understanding you, it requires time and full of effort. I’ve read and reread your story countless times, repeating every word. Damn it, that man described you with such depth. Maybe that’s why I feel proud when I can finally understand you, maybe. After all, Nastenka, it’s been more than a hundred years since that man immortalized your story, and more than a hundred years since he left you, truly left you, forever. So, I hope you won’t mind if I call upon your name again. Nastenka, the year has turned again. I once read on social media, though I can’t remember who wrote it, that stepping into this new year, when people start cheering, blowing trumpets, and lighting fireworks, is the moment when the distance to the year 2050 is now the same as the distance back to the year 2000. The words seem ordinary enough, but I read it with a strange feeling, Nastenka. It turns out we’ve come this far. I’m not sa...

Seberapa Lama Selamanya?

( " San Giorgio Maggiore at Dusk" , 1908 dilukis oleh Claude Monet)             Ide-ide unik sekaligus aneh seringkali muncul ketika kita bengong.  Dalam malam-malam insomnia yang penuh kegabutan, atau saat dalam transportasi umum dengan pandangan kosong ke arah gedung perkotaan dan pepohonan pinggir jalan, atau bahkan suasana hening saat buang air besar.       Kondisi-kondisi tersebut tak jarang melahirkan motivasi mendadak bahwa kita mampu mengubah dunia, paling tidak mengubah diri sendiri. Dibandingkan sebutan ‘bengong’ saya lebih memilih meromantisasinya dengan istilah kontemplasi.      Memang, salah seorang sahabat saya berkata bahwa otak kita justru menghasilkan pikiran kreatifnya saat ia tidak dipaksa untuk berpikir. Dalam ilmiahnya, kondisi tersebut adalah kondisi dimana otak mencapai gelombang Alpha (google saja untuk info lebih dalam).      Kembali lagi, seberapa lama selamanya?  ...