
("San Giorgio Maggiore at Dusk", 1908 dilukis oleh Claude Monet)
Ide-ide unik sekaligus aneh seringkali muncul ketika kita bengong. Dalam malam-malam insomnia yang penuh kegabutan, atau saat dalam transportasi umum dengan pandangan kosong ke arah gedung perkotaan dan pepohonan pinggir jalan, atau bahkan suasana hening saat buang air besar.
Kondisi-kondisi tersebut tak jarang melahirkan motivasi mendadak bahwa kita mampu mengubah dunia, paling tidak mengubah diri sendiri. Dibandingkan sebutan ‘bengong’ saya lebih memilih meromantisasinya dengan istilah kontemplasi.
Memang, salah seorang sahabat
saya berkata bahwa otak kita justru menghasilkan pikiran kreatifnya saat ia
tidak dipaksa untuk berpikir. Dalam ilmiahnya, kondisi tersebut adalah kondisi
dimana otak mencapai gelombang Alpha (google saja untuk info lebih dalam).
Kembali lagi, seberapa
lama selamanya?
Selamanya, ini adalah
konsep yang unik. Ia bisa menggambarkan sesuatu yang abadi dan pada saat yang
sama menggambarkan sesuatu yang tidak pernah ada (nihil). ‘Selamanya’ juga
sering dikaitkan dengan hal batin, keintiman paling dalam dari individu. Perasaan,
keyakinan, dan cinta adalah hal-hal yang kerap kali bergandengan dengan ‘selamanya’.
Tapi apa maknanya itu? Ketika
kita menghubungkan sesuatu dengan ‘selamanya’, keterangan macam apa yang hendak
kita berikan?
Kita juga bertanya,
sampai kapan sesuatu itu dikatakan ‘selamanya’? menjawab pertanyaan itu sama saja
berusaha menjawab angka berapa yang paling besar.
Apakah ‘selamanya’ itu
selalu tentang waktu? Bukankah orang-orang pada Kekaisaran Romawi yang telah berjaya
selama berabad-abad, menganggap bahwa imperiumnya akan bertahan selamanya, yang sekarang
mereka adalah sisa-sisa sejarah yang tidak dipedulikan semua orang. Bukankah orang
yang sedang berbahagia berharap hidup mereka akan selamanya, sekalipun minggu
depan mereka ingin mati besok.
Lagi-lagi, ‘selamanya’
tidak bisa terjawab hanya dengan konsep waktu, ia berlari liar, satu waktu ‘selamanya’
bisa berarti untuk waktu yang sangat lama, bisa juga hanya beberapa detik dalam
salah satu fase hidup.
Tetapi my dear, bagiku ‘selamanya’
adalah bentuk keberanian, tertanam segumpal harapan disana. Manusia memang
hebat ya, kita berani merumuskan konsep yang bahkan kita tidak akan pernah bisa
mencapainya, kita bisa mencetuskan sesuatu yang tidak dibatasi apapun, kemudian
melampauinya.
Kiranya, selain konsep
tentang Tuhan, konsep ‘selamanya’ ini merupakan bentuk keberanian umat manusia.
Dengan konsep ‘selamanya’ kita berani untuk terus hidup bahkan setelah mati. Karena
sadar bahwa segala sesuatu akan sirna, kita lawan hal itu, kita membuat konsep
imajiner yang melawan kesirnaan. Bayangkan, kurang hebat apa manusia?
Jadi tenang, meskipun
sempat ada pikiran bahwa kita adalah pecundang zaman, paling tidak dengan konsep
‘selamanya’ kita telah mencoba untuk berani.
Lantas, bagaimana dengan I
love you forever? Tulisan akan dilanjutkan pada waktu yang tidak ditentukan.
Begitu denganku, menurutmu,
apa itu selamanya?
Komentar
Posting Komentar