Mahasiswa Ekonomi : masuk manusia, keluar jadi robot ?
Oleh : Cenruang Alung
Jika mendengar kata “EKONOMI” apa yang terlintas dalam benak anda ?
1…..2..…3…..
Silahkan tersenyum jika yang terlintas dalam pikiran anda adalah
uang, bank, dan jualan.
Jika bukan, maklumi saja
saya bukan Roy Ki*oshi yang dapat membaca pikiran anda.
Oke.
Apa yang disampaikan Paul Omerod dalam buku kontroversialnya yang berjudul “The Death of Economics” (1994),
nampaknya semakin terlihat jelas seiring memutarnya waktu. Omerod meresahkan
bahwa dewasa ini terjadi fenomena yang disebutnya the death of economics (yang
kemudian menjadi judul bukunya), dimana ilmu ekonomi mulai mengalami
penyempitan, ketika ilmu ekonomi hanya dipandang dari segi perbankan, dan
manajemen bisnis saja. Demikian didalam universitas seringkali tujuan
pembelajaran ilmu ekonomi hanya untuk menguasai hal hal seperti yang
disampaikan oleh paman Omerod tadi.
kerap kali terlintas dalam pikiran mengapa Ilmu Ekonomi menjadi
salah satu jurusan dalam kelompok sosial dan humaniora bukan dalam kelompok
sains dan teknologi. Padahal seringkali kita saksikan dalam ruang-ruang kelas segala
yang dipelajari adalah hitung-hitungan yang pasti, sedikit rumit dan kemudian
kita mendapat gelar “pintar” karena mampu memecahkannya dengan cepat dan tepat. Kerap kali kita dibuat tenang bahwa sistem yang sedang berjalan di dunia ini adalah sistem yang baik, kompleks, dan telah dipikirkan oleh banyak ahli, kita tak perlu mengubahnya namun cukup lanjutkan dan menjadi sendi dari sistem yang sudah ada. kita terbuai dalam ekonomi pasti dan tanpa disadari kita ikut berperan pula dalam penyempitan Ilmu Ekonomi. Jika
penyempitan itu terus terjadi, maka bukan tidak mungkin seiring perubahan zaman
Ilmu Ekonomi akan berjumpa dengan ajalnya. Ditambah dengan kemajuan pesat dunia
teknologi, membuat segala hitung-hitungan ekonomi dapat dipecahkan dalam
sekejap, habislah kita. Oleh karenanya penting bagi mahasiswa/pelajar untuk memahami betul
akan esensi dari ekonomi, tidak berhenti disitu kitapun bertanggung jawab dalam
berbagi pemahaman kepada masyarakat luar. Lantas apakah hitung-hitungan itu tidak
penting ? tentu penting, sangat penting bahkan ekonomi itu sendiripun tidak
dapat dipisahkan dari hitung-hitungan tersebut. Namun mengapa ilmu ekonomi
masuk kedalam kelompok ilmu sosial dan humaniora tentu karena esensi utamanya
adalah tentang bagaimana kita membaca kondisi sosial kemanusiaan, bahwa kita
tidak sedang menganalisa mesin namun menganalisa tentang manusia, alam dan
sumber dayanya. Ekonometrika tentu akan menjadi senjata ampuh dalam menganalisa
dan memecahkan masalah-masalah ekonomi jika dilandasi oleh pemahaman filosofis
yang kokoh tentang hakikat dari ekonomi itu sendiri.
Dengan begitu kitapun keluar sebagai manusia yang paham ekonomi, bukan sebagai manusia ahli yang berjiwa robot, menjadi ahli yang kita
sendiri tidak mengetahui bekerja untuk siapa, memperkaya siapa, dan
menyengsarakan siapa. Mata kita melek melihat angka, namun hati buta melihat
sebagian manusia yang kian sengsara. Tidak ada maksud merendahkan yang lain
atau menyalahkan yang telah terjadi, namun itulah kritisi dimana akal selalu menjadi
oposisi walaupun sering kontradiksi namun tak menutup kemungkinan untuk saling
melengkapi.
Seperti biasa, terima kasih kepada para pembaca, jika setuju
diperbolehkan untuk men-share, dan jika tidak setuju tentu bantahan dan
sanggahan yang membangun selalu dibutuhkan, kritik tajam nan pedas
dipersilahkan asal tetap dalam koridor keadaban. Yang demikian itu dibutuhkan
agar tulisan ini dapat membuka pikiran, bukan tulisan yang menyesatkan.
Sumbawa Besar, Juli 2019

KERENNNN!!!
BalasHapusTerimakasih
Hapus