“orang dewasa perlu belajar dengan anak
kecil tentang bercita-cita dan anak kecil haruslah menjadi dewasa agar mengerti
tentang orientasi”
Kita semua
adalah pemimpi yang hebat, dimasa kecil kita semua adalah orang yang sama, jika
anda lelaki maka kita adalah tantara, polisi, pemadam kebakaran, astronot yang
dahulu kita cita-citakan. Jika anda adalah wanita maka kalian adalah dokter,
polwan, chef atau pramugari yang dahulu kalian cita-citakan. Perlahan kita
semua mulai beranjak dewasa dan bercita-cita mulai tidak seindah dahulu. Di
bangku SMA mungkin kita bercita-cita hanya sebatas diterima di perguruan tinggi
favorit, saat memasuki kehidupan kampus mungkin kita bercita-cita hanya sebatas
lulus nanti mendapat pekerjaan yang bagus atau mungkin semoga lulus tepat waktu
dan paling tidak cita-cita terendah saat itu adalah tidak mengulang mata kuliah.
Bagi anda yang telah melalui semuanya, mungkin saat membaca ini tengah
senyum-senyum sendiri, dan bagi kalian yang belum melaluinya, itu saya berikan
spoilernya.
Hal serupa
juga dialami oleh Uwo, seorang bocah yang entah dimana keberadaannya sekarang,
dulu pernah bercerita tentang cita-citanya ingin menjadi astronot, presiden dan
professor. Masa demi masa dilalui dilaluinya tanpa usaha, entah itu karena ia
sadar akan kapasitas dirinya yang tidak mungkin menggapai cita-citanya, atau
memang pada dasarnya ia adalah seorang pemalas.
Kemarin kami
sempat bertemu, pembahasan obrolannya dari dulu hingga kemarin ternyata tidak
berubah, selalu tentang cita-cita, ambisi, cita-cita dan ambisi. Namun dibalik
obrolan yang itu-itu saja tersirat makna yang begitu berbeda. Nampaknya Uwo
yang tengah menginjak dunia kampus saat ini telah berubah, selain rambutnya
yang mulai menggondrong, sepertinya pikiran mulai mendapat beban. Pembahasannya
tidak meluas namun mendalam, ia bercerita betapa bodohnya ia habiskan masa
SMA-nya dahulu dengan hanya bermalas-malasan, namun binar matanya yang ceria
saat berbicara itu seolah berkata bahwa “penyesalan adalah sebuah kemalangan
yang tak pantas untuk dihiraukan” dan senyumnya saat itu seolah berbisik “namun
berangan dan tak berusaha adalah penyesalan yang paling disengaja”.
Setelah
minuman kami habis, saya memutuskan untuk bertanya lantas bagaimana cita-citamu
yang dahulu, apakah sudah menemui titik terang ? kemudian Uwo menjawab bahwa ia
sama sekali belum melihat tujuannya, namun bahwa ia berada dijalan menuju
tujuan tersebut. Saya yang setengah mengerti mencoba untuk memintanya
menjelaskan maksudnya, lantas ia menjawab “kuda !” ada apa dengan kuda ?
berbalik menanyainya. Ia mengatakan misalkan saat kecil dulu kita semua hendak
diajari berkuda yang terbesit dalam pikiran adalah bagaiamana agar menjadi
mahir bahkan sambil memanah saat menungganginya bak Arjuna atau bahkan menjadi
atlet balap kuda, namun sebagai orang dewasa pikiran kita cenderung memikirkan
hal yang realistis seperti bahaya dari ia menunggangi kuda saat terjatuh, ia dapat terinjak oleh sepatu besi
kuda tersebut. Itulah makna dari orang dewasa perlu belajar kepada anak kecil
tentang cita-cita, tentang keberanian, visi yang besar, serta niat yang
benar-benar suci. Namun berbeda cerita saat anak kecil yang diajari menunggangi
kuda dahulu telah beranjak dewasa, setelah pikirannya telah memahami realitas
dunia, mungkin saat diberikan kuda ia tak ingin lagi menjadi seperti arjuna
yang mahir menunggangi kuda sambil memanah diatasnya, namun ia lebih memilih
untuk memelihara dan beternak kuda. Itulah yang dimaksud dari anak kecil perlu
untuk menjadi dewasa agar mengerti makna dari orientasi, sekalipun ia tidak
menjadi Atlet balap kuda namun ia menjadi peternak kuda yang dimana memiliki
orientasi yang sama yaitu kuda sebagai jalan hidup.
Di
penghujung malam Uwo memutuskan untuk pulang, tidak tahan dengan udara dingin
katanya. Sebelum pulang ia menitipkan pesan kepada kalian semua ketahuilah
orientasi kalian, sebab jika cita-cita tak dapat tercapai orientasi harus dipertahankan
sebab disitulah jiwa kalian sebenarnya. Jika gagal menjadi guru janganlah
berhenti untuk mengajar, jika gagal menjadi dokter jangan berhenti dalam
menolong orang dan jika gagal dalam menjadi hakim jangan pernah berhenti untuk
menegakkan keadilan, sebab dengan begitulah perkataan pepatah yang berbunyi
“bercita-citalah setinggi langit, jika kau jatuh maka akan jatuh diantara
gugusan bintang-bintang” akan terlaksana.
Terima kasih Uwo.

Komentar
Posting Komentar