The Philosophy’s
Trap, memasuki
masa-masa akhir berkuliah, sepertinya saya mulai menyadari bahwa inilah permulaan
dunia pemikiran, seperti sebuah jebakan, filsafat memberi dua pilihan: menyelami
terus dan itu berarti mewakafkan seluruh pikiran pada perdebatan yang mungkin
otak akan dihajar habis-habisan, atau keluar dari samudera filsafat dan
menerima konsekuensi bahwa segalanya akan menjadi hampa tak bermakna, hingga
saat ini saya belum menentukan pilihan, mungkin sekedar istirahat dahulu, tidak
naik atau turun, berada di ruang yang bukan keduanya seperti kata kaum mu’tazilah
“manzilah baynal manzilatain” namun kali ini bukan dalam konteks ketuhanan. Tentu
benih pertanyaan tersebut timbul tak lepas dari pengaruh OTW menjadi sarjana, sebuah
meja pertaruhan antara berjuang bersama idealisme atau melebur bersama realita.
Terkadang saya mengajukan pertanyaan kepada diri “mengapa kita tidak memilih keduanya,
tak bisakah kita menemukan realita yang idealis?, atau bisakah kita tetap
memuaskan dahaga kekayaan ilmu sembari tetap kenyang dengan kemegahan materi,
tentu bisa ! namun pernahkah kita menyiapkannya ? hehe.
Mungkin itulah
yang menjadi kesalahan saya sejak awal bernyawa, saya dan mungkin beberapa pembaca
yang lain melakukan yang sama. Kita pasti memiliki cita-cita, dan kesalahan saya
adalah hanya menaruh cita-cita jangka pendek dan jangka panjang, namun lupa
akan cita-cita jangka menengah. Dalam jangka pendek mungkin sekedar target
dalam sebulan habis sekian buku, memiliki ipk yang tinggi sembari aktif dan
memiliki jabatan dalam berorganisasi, dan jangka panjangnya mungkin menjadi
orang besar yang hebat, pembicara dalam TED, diundang dalam podcastnya Gita
Wirjawan, satu meja diskusi dengan Harari atau mungkin bersalaman bisnis dengan
Jeff Bezos.
Setelah beberapa
cita-cita jangka pendek tercapai, saya sadar dengan penuh terkejut, ciluk ba !
setelah ini apa. Saya gugup, seperti hendak berbicara di depan umum tanpa
memiliki bekal apa-apa, realita pula seperti itu, bertanya “setelah ini apa?” tanpa
ada persiapan sebelumnya, cita-cita jangka panjang saya bertanya “sudah sampai
mana?” tanpa pernah saya merancang jalurnya. Belum lagi keinginan hidup bersama wanita dambaan haha, dia terlalu cantik untuk saya pinang dalam keadaan pikiran yang masih terombang-ambing masa depan, saya tentu ingin dia bahagia dengan sebaik-baiknya jalur yang telah saya tempuh dengan matang. Ditambah lagi dengan
tamparan pedas dari perkataan our sugar daddy papi Elon Musk “Don’t confuse
schooling with education. I didn’t go to Harvard but the people that work for me
did” atau dengan quotes lain “I hate when people confuse education with
intelligence you can have a bachelor’s degree and still be an idiot” yang
berarti bahwa banyak orang yang mampu bersekolah namun makan bangku, dan banyak
orang yang bahkan tak mampu makan nasi namun tetap belajar.
Terus belajar,
mungkin menjadi frasa yang sedikit menenangkan atas berbagai hujan pertanyaan
menjelang sarjana. Tamat sekolah bukan berarti tamat dalam belajar, setiap
orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.
Tapi…, sampai kapan terus belajar namun
tidak menghasilkan cuan (duit, uang, fulus, money its all about money beyb
haha) yasudah sekian dulu, kesempatan lain kita bahas itu.
Wassalam, saya gugup.

Komentar
Posting Komentar