Langsung ke konten utama

Menuju Sarjana, Sebuah Kegugupan yang Nyata

 



Salam semua, sejak awal bergelut dengan skripsi, pikiran saya akhir-akhir ini selalu dihantui dengan pertanyaan “setelah ini apa?” dan saya rasa banyak juga dari kawan sekalian yang seperti itu. Mungkin ini bersebab karena apa yang saya sebut dengan “The Philosophy’s Trap” ya, jebakan filsafat. Semasa berkuliah saya banyak sekali bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran yang hebat, dari yang paling Islami hingga yang sekuler, dari yang paling kanan hingga yang meng-kiri-kan diri, dari yang telah haqqul yakin dengan keyakinannya hingga yang masih proses mencari, dan semua obrolan bersama mereka 
tak terlepas dari filsafat. Filsafat, Sejak SMP saya telah jatuh hati dengan kata itu walau tidak mengetahui apapun tentangnya, dan ketika awal menjadi mahasiswa barulah PDKT yang mungkin lebih serius dimulai.

The Philosophy’s Trap, memasuki masa-masa akhir berkuliah, sepertinya saya mulai menyadari bahwa inilah permulaan dunia pemikiran, seperti sebuah jebakan, filsafat memberi dua pilihan: menyelami terus dan itu berarti mewakafkan seluruh pikiran pada perdebatan yang mungkin otak akan dihajar habis-habisan, atau keluar dari samudera filsafat dan menerima konsekuensi bahwa segalanya akan menjadi hampa tak bermakna, hingga saat ini saya belum menentukan pilihan, mungkin sekedar istirahat dahulu, tidak naik atau turun, berada di ruang yang bukan keduanya seperti kata kaum mu’tazilah “manzilah baynal manzilatain” namun kali ini bukan dalam konteks ketuhanan. Tentu benih pertanyaan tersebut timbul tak lepas dari pengaruh OTW menjadi sarjana, sebuah meja pertaruhan antara berjuang bersama idealisme atau melebur bersama realita. Terkadang saya mengajukan pertanyaan kepada diri “mengapa kita tidak memilih keduanya, tak bisakah kita menemukan realita yang idealis?, atau bisakah kita tetap memuaskan dahaga kekayaan ilmu sembari tetap kenyang dengan kemegahan materi, tentu bisa ! namun pernahkah kita menyiapkannya ? hehe.

Mungkin itulah yang menjadi kesalahan saya sejak awal bernyawa, saya dan mungkin beberapa pembaca yang lain melakukan yang sama. Kita pasti memiliki cita-cita, dan kesalahan saya adalah hanya menaruh cita-cita jangka pendek dan jangka panjang, namun lupa akan cita-cita jangka menengah. Dalam jangka pendek mungkin sekedar target dalam sebulan habis sekian buku, memiliki ipk yang tinggi sembari aktif dan memiliki jabatan dalam berorganisasi, dan jangka panjangnya mungkin menjadi orang besar yang hebat, pembicara dalam TED, diundang dalam podcastnya Gita Wirjawan, satu meja diskusi dengan Harari atau mungkin bersalaman bisnis dengan Jeff Bezos.

Setelah beberapa cita-cita jangka pendek tercapai, saya sadar dengan penuh terkejut, ciluk ba ! setelah ini apa. Saya gugup, seperti hendak berbicara di depan umum tanpa memiliki bekal apa-apa, realita pula seperti itu, bertanya “setelah ini apa?” tanpa ada persiapan sebelumnya, cita-cita jangka panjang saya bertanya “sudah sampai mana?” tanpa pernah saya merancang jalurnya. Belum lagi keinginan hidup bersama wanita dambaan haha, dia terlalu cantik untuk saya pinang dalam keadaan pikiran yang masih terombang-ambing masa depan, saya tentu ingin dia bahagia dengan sebaik-baiknya jalur yang telah saya tempuh dengan matang. Ditambah lagi dengan tamparan pedas dari perkataan our sugar daddy papi Elon Musk “Don’t confuse schooling with education. I didn’t go to Harvard but the people that work for me did” atau dengan quotes lain “I hate when people confuse education with intelligence you can have a bachelor’s degree and still be an idiot” yang berarti bahwa banyak orang yang mampu bersekolah namun makan bangku, dan banyak orang yang bahkan tak mampu makan nasi namun tetap belajar.

Terus belajar, mungkin menjadi frasa yang sedikit menenangkan atas berbagai hujan pertanyaan menjelang sarjana. Tamat sekolah bukan berarti tamat dalam belajar, setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah.

 

Tapi…, sampai kapan terus belajar namun tidak menghasilkan cuan (duit, uang, fulus, money its all about money beyb haha) yasudah sekian dulu, kesempatan lain kita bahas itu.

Wassalam, saya gugup.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Year Turns Again, Nastenka

( Going Home by Tom Roberts, 1889) Forgive me for using your name again, Nastenka. In understanding you, it requires time and full of effort. I’ve read and reread your story countless times, repeating every word. Damn it, that man described you with such depth. Maybe that’s why I feel proud when I can finally understand you, maybe. After all, Nastenka, it’s been more than a hundred years since that man immortalized your story, and more than a hundred years since he left you, truly left you, forever. So, I hope you won’t mind if I call upon your name again. Nastenka, the year has turned again. I once read on social media, though I can’t remember who wrote it, that stepping into this new year, when people start cheering, blowing trumpets, and lighting fireworks, is the moment when the distance to the year 2050 is now the same as the distance back to the year 2000. The words seem ordinary enough, but I read it with a strange feeling, Nastenka. It turns out we’ve come this far. I’m not sa...

Seberapa Lama Selamanya?

( " San Giorgio Maggiore at Dusk" , 1908 dilukis oleh Claude Monet)             Ide-ide unik sekaligus aneh seringkali muncul ketika kita bengong.  Dalam malam-malam insomnia yang penuh kegabutan, atau saat dalam transportasi umum dengan pandangan kosong ke arah gedung perkotaan dan pepohonan pinggir jalan, atau bahkan suasana hening saat buang air besar.       Kondisi-kondisi tersebut tak jarang melahirkan motivasi mendadak bahwa kita mampu mengubah dunia, paling tidak mengubah diri sendiri. Dibandingkan sebutan ‘bengong’ saya lebih memilih meromantisasinya dengan istilah kontemplasi.      Memang, salah seorang sahabat saya berkata bahwa otak kita justru menghasilkan pikiran kreatifnya saat ia tidak dipaksa untuk berpikir. Dalam ilmiahnya, kondisi tersebut adalah kondisi dimana otak mencapai gelombang Alpha (google saja untuk info lebih dalam).      Kembali lagi, seberapa lama selamanya?  ...

Cerpen Sesat (?)

  “Keprak!” Cangkir dari tanah liat yang baru saja jadi itu dilemparkan begitu saja oleh si pengrajin, pecah tiada rupa. Di atas meja, terjajar banyak sekali cangkir yang baru saja jadi. “Keprak!” Menyusul cangkir lainnya dilempar lagi. Lagi-lagi oleh si pengrajin itu sendiri, cangkir yang dibuatnya sendiri, dari bahan dan alat yang ia kuasai sendiri. Namun sebagian cangkir lain dibahagiakan, diberi manfaat untuk meminum teh, kopi, atau sekadar pajangan di ruang tamu. Apa yang pengrajin pikirkan tak ada yang benar-benar tahu. Beberapa orang malas untuk mencari tahu, dan beberapa lagi dibungkam, dicecar habis-habisan ketika ingin mempertanyakan semua. Aneh, padahal si pengrajin tidak pernah melarang, selantang apapun pertanyaan diajukan padanya, jawaban tak ada yang datang langsung darinya. “Benar, kan, Dar?” ucap Nero meyakinkan Dara. “Gak gitu, semua sebenarnya udah ada penjelasannya, kamu aja yang kurang yakin,” jawab Dara sembari membereskan buku-buku di meja. “Coba renungkan Da...