Tak ada
senja di Lebanon…
Selasa
(4/8/2020), ledakan yang diiringi shockwave terjadi sekitar pukul 18.00
waktu setempat (22.00 WIB) mengubah situasi senja saat itu menjadi sebuah
tragedi mengerikan, ledakan yang diiringi teriakan serta tangisan warga Lebanon
itu sontak menarik mata dunia tertuju pada Beirut, Lebanon.
Dilansir
dari laman CNBC Indonesia, ledakan yang menewaskan sedikitnya 135 orang dan
melukai lebih dari 5000 orang tersebut disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton
amonium nitrat yang tersimpan pada salah satu gudang di Pelabuhan Beirut. Salah satu pernyataan dari pejabat
keamanan Lebanon mengatakan bahwa amonium nitrat telah tiba di Lebanon pada
2013 di atas kapal berbendera Moldova dari Georgia dan menuju Mozambik. Atas
kekhilafan tersebut, Presiden Lebanon Michel Aoun pada salah satu cuitannya di
twitter berkata “penyimpanan bahan kimia amonium nitrat dengan tidak aman
selama enam tahun yang mengakibatkan terjadinya ledakan ini tak dapat dimaafkan,
siapa pun yang bertanggung jawab akan ledakan tersebut harus mendapatkan
hukuman yang berat.”
Ditengah
duka mendalam warga Lebanon, ada hal yang sedikit menggelitik jagat media,
yaitu dari mereka yang candu akan teori konspirasi. Teori-teori tanpa dasar
yang kuat atau bahkan atas dasar klaim perseorangan merebak di media sosial
yang kemudian dilepas begitu saja dan menjadi konsumsi publik, terlebih pada
masyarkat awam yang sangat gemar mengkonsumsi informasi berbau konspirasi
tersebut, dan berbahaya lagi apabila media televisi memberi kesempatan kepada
mereka yang candu akan konspirasi tersebut untuk berbicara, semoga saja
penyakit bothsideism itu tidak terulang. Seperti salah video unggahan
dari platform Tiktok yang telah tersebar pula di Instagram dengan akun
@alinezad tersebut berisi tentang ledakan di Beirut disebabkan oleh Israel dan
bukan seratus persen dari amonium nitrat yang tersimpan pada gudang tersebut,
dengan adanya penampakan roket yang menghantam gudang penyimpanan amonium
nitrat. Pada video tersebut dijelaskan pula bahwa informasi yang didapatkan
berasal dari sahabatnya yang merupakan warga asli Lebanon.
Informasi
serupa juga muncul, salah satu teori konspirasi yang diliput dari laman BBC
News Indonesia misalnya, bahwa kelompok sayap kanan mengklaim penyebab dari
ledakan tersebut adalah serangan bom atau rudal dari Amerika Serikat, Israel
atau Hizbullah. Dan informasi tersebut telah disebar diberbagai platform media
sosial.
Informasi
semacam ini selain belum terbukti kebenarannya juga berpotensi menjadi
informasi yang berbau provokasi, beruntung pihak terkait telah meluruskan
disinformasi tersebut. Dari berbagai teori konspirasi yang menyangkut ledakan
di Beirut tersebut, jika dianalisis dengan seksama maka beberapa diantaranya
merupakan manifestasi dari cacat berlogika (logical fallacy). Setidaknya
ada dua bentuk cacat berlogika dari teori konspirasi diatas yaitu post hoc
ergo propter hoc dan argumentum ad ignorantiam.
Post Hoc Ergo Propter Hoc
Post hoc ergo propter hoc atau singkatnya disebut post hoc merupakan
salah satu bentuk kecacatan dalam berlogika yaitu kesalahan dalam menggunakan
hukum sebab-akibat (kausalitas) dimana ketika suatu hal menjadi penyebab hal
yang lain, maka hal yang akan timbul selanjutnya disebabkan oleh hal yang sama.
Ambil contoh dari pernyataan konspirasi diatas, bahwa kelompok sayap kanan
mengklaim penyebab dari ledakan tersebut adalah serangan bom atau rudal dari
Amerika Serikat, Israel atau Hizbullah. Hanya karena Lebanon tengah bersitegang
dengan Amerika, Israel dan Hizbullah (organisasi politik dan militer yang ada
di Lebanon) lantas tuduhan atas ledakan di Beirut tersebut dengan mudahnya
dilayangkan pada mereka, padahal tidak ada bukti yang konkret yang menyatakan
hal tersebut.
Argumentum Ad Ignorantiam
Sementara argumentum ad
ignorantiam adalah salah satu bentuk dari kecacatan dalam berlogika yang
dimana sebuah pernyataan dianggap sebagai sesuatu hal yang benar hanya karena belum
ada bukti konkret yang menyatakan bahwa hal tersebut salah, begitu pula
sebaliknya, sesuatu hal dianggap salah karena belum ada bukti konkret yang
menyatakan bahwa hal tersebut benar. Tindakan seperti ini merupakan dikotomi
dalam memberikan argumen atau informasi. Jika menganalisa sebuah video tiktok
yang beredar tersebut, maka didapati bahwa ada bentuk dari argumentum ad
ignorantiam dari informasi yang dicoba sampaikan oleh pembuat video
tersebut, yaitu saat dikatakan bahwa ledakan di Beirut disebabkan oleh Israel
dan bukan seratus persen dari amonium nitrat yang tersimpan pada gudang
tersebut, dengan adanya penampakan roket yang menghantam gudang penyimpanan
amonium nitrat. Juga pada teori konspirasi yang lain. Beberapa dari kita
terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa hal itu benar hanya karena belum
terbukti salah seperti adanya penampakan roket yang menghantam gudang
penyimpanan amonium nitrat, atau Israel adalah dalang dari meledaknya gudang
tersebut. Beruntung beberapa media dengan cepat meluruskan disinformasi
tersebut.
Berbagai
kritik yang dilontarkan dalam tulisan ini tidak bermaksud sama sekali untuk
penyerang pribadi, sebab hal tersebut juga termasuk dalam kecacatan dalam
berlogika yang disebut ad hominem, namun tulisan ini mengkritik substansi
dari informasi yang mungkin terlalu naif atau bahkan tidak pantas untuk
disebarluaskan pada khalayak umum, sebab akan memprkeruh suatu permasalahan
dengan informasi yang bersifat provokatif dan informasi menjadi tumpang-tindih.
Terakhir,
marilah kita semua untuk bijak dalam menggunakan sosial media dan menyebarkan
informasi, hindari berbagai macam informasi yang berbau provokasi dan bersama
kita saling mendukung dan menguatkan para saudara-saudara kita yang merasakan
dampak dari ledakan tersebut. Berhenti untuk saling menuduh dan mari bersama
untuk memanusiakan manusia.

Komentar
Posting Komentar